Kamis, 07 Maret 2013

GEOGRAFI REGIONAL INDONESIA PULAU SULAWESI


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Masalah
                        Sulawesi merupakan pulau terbesar keempat diIndonesia setelah Papua, Kalimantan dan Sumatera dengan luas daratan 174.600 kilometer persegi. Bentuknya yang unik menyerupai bunga mawar laba-laba atau huruf K besar yang membujur dari utara ke selatan dan tiga semenanjung yang membujur ke timur laut, timur dan tenggara. Pulau ini dibatasi oleh Selat Makasar di bagian barat dan terpisah dari Kalimantan serta dipisahkan juga dari Kepulauan Maluku oleh Laut Maluku. Sulawesi berbatasan dengan Borneo di sebelah barat, Filipina di utara, Flores di selatan, Timor di tenggara dan Maluku di sebelah timur. Nama Sulawesi diperkirakan berasal dari kata dalam bahasa-bahasa di Sulawesi Tengah yaitu kata sula yang berarti nusa (pulau) dan kata mesi yang berarti besi (logam), yang mungkin merujuk pada praktik perdagangan bijih besi hasil produksi tambang-tambang yang terdapat di sekitar Danau Matano, dekat Sorowako, Luwu Timur. Sulawesi termasuk dangkalan Indonesia Tengah, dimana terdiri dari relief yang kasar karna banyak terdapat perbukitan atau pegunungan. Sulawesi di bagi atas 6 wilayah yaitu : Sulawesi Utara (Manado), Sulawesi Tengah (Palu), Sulawesi Selatan (Makassar), Sulawesi Barat (Mamuju), Sulawesi Tenggara (Kendari), dan Gorontalo.
          Dengan keadaan pulau Sulawesi yang memiliki karakter daerah yang terjal dan berbukit- bukit, sehingga memungkinnkan memiliki sungai- sungai yang terjal dan pendek yang dikarenakan terbatasi oleh bukit- bukit  tersebut. Di Sulawesi terdapat banyak palung laut dan basin, sehingga basin tersebut membentuk seperti, selat makasar, laut flores, dan laut banda. Potensi secara umum yang dimiliki daerah Sulawesi itu seperti potensi industri dan pertambangan (perikanan laut, emas), potensi pertanian (cengkeh, kelapa, coklat, kopi, dan sebagainya), potensi pariwisata (wisata alam pantai, pemandangan, danau, dan sebagainya).











B.    Rumusan Masalah
            Adapun rumusan permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini sebagai berikut:
1.      Bagaimana keadaan fisik, sosial budayanya, dan ekonomi dari daerah Sulawesi Utara?
2.      Bagaimana keadaan fisik, sosial budayanya, dan ekonomi dari daerah Gorontalo?
3.      Bagaimana keadaan fisik, sosial budayanya, dan ekonomi dari daerah Sulawesi Tengah?
4.      Bagaimana keadaan fisik, sosial budayanya, dan ekonomi dari daerah Sulawesi Tenggara?
5.      Bagaimana keadaan fisik, sosial budayanya, dan ekonomi dari daerah Sulawesi Selatan?
6.      Bagaimana keadaan fisik, sosial budayanya, dan ekonomi dari daerah Sulawesi Barat?



















BAB II
PEMBAHASAN

1.            PROVINSI  SULAWESI  UTARA


LUAS WILAYAH DAN LETAK GEOGRAFIS
Luas Wilayah Sulawesi Utara adalah: 15.241.46 km², yang terbagi ke dalam 9 daerah Kabupaten/Kota definitif. Kabupaten Bolang Mongondow dengan luas 8.358,04 km² merupakan kabupaten terluas di Provinsi ini, kemudian di ikuti berturut-turut oleh Kabupaten Minahasa Selatan seluas 2.079,10 km², Kabupaten Talaud 1.250,92 km², Kabupaten Sangihe 1.013,03 km², Kabupaten Minahasa 973,81 km², Kabupaten Minahasa Utara 957,65 km², Kota Bitung 304,40 km², Kota Manado 157,91 km², dan Kota Tomohon 146,60 km² yang merupakan daerah terkecil luasnya di Provinsi Sulawesi Utara. Provinsi Sulawesi Utara terdiri dari beberapa pulau, diantaranya Pulau Manado Tua, Pulau Bunaken, Pulau Mantehage, Pulau Siladen, Pulau Talise, Pulau Bangka, Pulau Karakelang, Pulau Ruang, Pulau Lembeh, Pulau Siau, Pulau Tagulandang, Pulau Karakelang, Pulau Kabaruang, Pulau Biaro, Pulau Sangihe, dan Pulau Salibabu.
Provinsi Sulawesi Utara merupakan bagian ujung utara dari semenanjung Pulau Sulawesi yang terletak di antara 0°30¹-5º35¹ Lintang Utara dan 123º70¹-127º00¹ Bujur Timur.
BATAS WILAYAH
Propinsi Sulawesi Utara terletak antara 0º15`-5º34` lintang utara dan antara 123º07`-127º10`Bujur Timur, yang berbatasan dengan laut Sulawesi, Republik Philipina dan laut Pasifik sebelah utara serta laut Maluku di sebelah timur. Batas sebelah selatan dan barat masing-masing adalah Teluk Tomini dan Gorontalo.
TOPOGRAFI
Provinsi Sulawesi Utara terdapat 41 buah gunung dengan ketinggian berkisar antara 1.112 - 1995 m. Kondisi geologi sebagian besar adalah wilayah vulkanik mudah, sejumlah besar erupsi serta bentuk kerucut gunung merapi aktif yang padam menghiasi Minahasa bagian tengan, daerah Bolaang Mongondow dan kepulauan Sangihe. Material-material yang dihasil letusannya berbentuk padat serta lain-lain bahan vulkanik lepas. Semua vulkanik ini berbentuk pegunungan (otogenisa) menghasilkan morfologi yang berbukit-bukit dan bergunung-gunung dengan perbedaan relief topografik yang cukup besar. Provinsi Sulawesi Utara ada 5 wilayah yang di kelilingi oleh gunung api aktif yakni Kabupaten Bolang Mongondow yakni gunung Ambang dengan ketinggian 1.689 m, Kabupaten Minahasa Selatan dengan gunung Soputan dengan ketinggian 1.783 m, Kota Tomohon dengan gunung Lokon dengan ketinggian 1.579,6 m dan gunung Mahawu dengan ketinggian 1.331,0 m yang merupakan hulu dari 12 sungai besar dengan 7 danau. Kepulauan Sangihe yakni Karangetan dengan ketinggian 1.320,0 m, Ruang dengan ketinggian 714,0 m, Banuawuhu 0,0 m, Submarin 0,0 m, dan gunung Awu dengan ketinggian 1.78,0 m. Serta Kota Bitung dengan gunung Tangkoko dengan ketinggian 1.149 m (lihat Tabel 1.2.4.2).
Provinsi Sulawesi Utara terdapat 30 sungai yang tersebar di Kabupaten Bolaang Mongondow dan Kabupaten Minahasa sementara danau berjumlah 17 buah yang terletak di 3 wilayah ini yakni Kab. Bolang Mongondow, Minahasa dan Sangihe Talaud.
KONDISI LAHAN PERTANIAN
Luas daratan Provinsi Sulawesi Utara menurut penggunaannya adalah 1.526.641 ha yang terdiri atas lahan irigasi teknis 19.017 ha, setengah teknis 16.074 ha, irigasi sederhana 5.970 ha, irigasi desa 8.622 ha, tadah hujan 13.374 ha, pasang surut 180 ha, lebak/polder 591 ha, pekarangan 42.510 ha, tegal/kebun 250.625 ha, ladang/huma 98.150 ha, pengembalaan/padang rumput 33.655 ha, rawa-rawa 5.032 ha, tambak 5.767 ha, kolam/empang 3.473 ha, lahan sementara tidak diusahakan 42.661 ha, hutan rakyat 127.757 ha, hutan negara 322.313 ha, perkebunan 256.308 ha dan lainnya 275.099 ha.


IKLIM  DAN CUACA
Wilayah Provinsi Sulawesi Utara ini beriklim tropis yang dipengaruhi oleh angin muson. Pada bulan November samapai bulan April bertiup angin barat yang menurunkan hujan. Sebaliknya angin tenggara yang bertiup dari bulan Mei sampai Oktober mendatangkan mendatangkan musim kemarau. Curah hujan yang terjadi tidak merata di antara kabupaten/kota. Rata-rata curah hujan yang terjadi antara 2.000-2.400 mm per tahun dengann jumlah hari hujan 90 - 120 hari.
Suhu udara rata-rata adalah 25,2ºC. Suhu udara maksimal rata-rata tercatat 30,4ºC dan suhu udara minimum rata-rata 22,ºC. Kelembaban udara tercatat 73,4%. Kendati demikian suhu atau temperatur di pengaruhi oleh ketinggian tempat di atas permukaan laut.

SOSIAL DAN BUDAYA SULAWESI UTARA
Penduduk
Untuk jumlah penduduknya yaitu sekitar 2.012.098 (sensus tahun 2000) dengan angka kepadatan penduduk 131 jiwa/ km2. Penduduk asli Sulawesi Utara terdiri dari penduduk asli dan juga pendatang. Suku-suku yang terdapat di Sulut sebagai berikut : Suku Minahasa (33,2%), Suku Sangir (19,8%), Suku Bolaang Mongondow (11,3%), Suku Gorontalo (7,4%), Totemboan (6,8%), dan sebagainya.
Makanan Khas Provinsi Sulawesi Utara
Tinutuan atau yang lebih dikenal dengan bubur manado merupakan makanan khas yang berasal dari daerah nyiur melambai. Selain tinutuan atau bubur manado, didaerah ini juga dapat anda menemukan makanan khas yang jarang anda temui didaerah lain seperti RW (Daging Anjing), Paniki (Kelelawar), daging ular, Tikus hutan, Babi Hutan dan berbagai makanan khas lainnya seperti ikan woku blanga dan ikan cakalang fufu.
Kebudayaan di Provinsi Sulawesi Utara
Beberapa tari tradisional seperti:

-      tarian maengket,
-      tarian kabasaran,
-      tarian katrili,
-      tari poco-poco,
-      upacara tulude,
-      tari masamper,
-      tari cakalele,
-      tari tumatenden


Selain berbagai macam tarian provinsi Sulawesi Utara juga mempunyai beberapa alat musik khas daerah yakni musik kolintang dan musik bambu. Sedangkan rumah adat Sulawesi Utara adalah rumah panggung.

Untuk tempat wisata yang berada di provinsi Sulawesi Utara adalah Pulau Bunaken yang sudah terkenal sampai ke penjuru dunia, Pulau Siladen, Bukit Kasih Kanonang, Bukit Doa Tomohon, taman nasional tangkoko, pantai di pulau lihaga yang begitu indah dengan pasir putih, waruga, Kelenteng Ban Hin Kiong, Batu Pinabetengan, Vulcano Area di Tomohon, Desa Agriwisata Rurukan-Tomohon, Gunung berapi bawah laut yang terdapat di pulau mahangetang kepulauan sangihe.
Beberapa ivent berskala internasional yang pernah diadakan di Provinsi Sulawesi Utara antara lain WOC (Wordl Ocean Conference), Sail Bunaken, Tomohon Flowers Festival (pameran bungan yang dilaksanakan hampir setiap tahun di Kota Tomohon). Selain itu ada beberapa festival yang menarik yang sayang untuk dilewatkan diantaranya adalah Festival Figura dan Tapikong.
Suku Bangsa, Bahasa dan Agama
Penduduk Sulawesi Utara terdiri atas 3 etnis dan bahasa yang berbeda-beda, yaitu :
1.      Suku Minahasa (Toulor, Tombolu, Tonsea, Tontenboan, Tonsawang, Ponosokan, dan Batik)
2.      Suku Sangine dan Talaud (Sangie Besar, Siau, Talaud)
3.      Suku Bolaang Mongindow (Mongondow, Bolaang, Bintauna, Kaidipang)

Walaupun demikian,Bahasa Indonesia digunakan dan dimengerti dengan baik oleh sebagian besar penduduk Sulawesi Utara didominisi oleh : 
-        Suku Minahasa (33,2%)
-        Suku Sangir (19,8%)
-        Suku Bolaang Mangondow (11,3%)
-        Suku Gorontalo (7,4%)
-        Suku Totemboan (6,8%)
Bahasa daerah Manado menyerupai Bahasa Indonesia tapi dengan logat yang khas.
Dengan demikian, bahasa yang ada di Sulawesi Utara dibagi ke dalam:
1.      Bahasa Minahasa (Toulour, Tombulu, Tonsea, Tontemboan, Tonsawang, Ponosakan dan Bantik).
2.      Bahasa Sangihe Talaud (Sangie Besar, Siau, Talaud).
3.      Bahasa Bolaang Mongondow (Mongondow, Bolaang, Bintauna, Kaidipang).
Beberapa kata dalam dialek Manado berasal dari Bahasa Belanda dan Portugis karena daerah ini merupakan wilayah jajahan Belanda dan Portugis. Namun demikian Bahasa Indonesia adalah Bahasa Nasional yang digunakan dan dimengerti dengan baik oleh sebagian besar penduduk Sulawesi Utara. Agama yang dianut oleh penduduk di Propinsi Sulawesi Utara adalah Protestan, Katolik, Islam, Hindu dan Budha. Mayoritas penduduk disana beragama Kristen dan Katolik. Sejumlah besar gereja dapat ditemui di seantero kota. Meski demikian, masyarakat Manado terkenal sangat toleran, rukun, terbuka dan dinamis. Karenanya Kota Manado memiliki lingkungan sosial yang relatif kondusif dan dikenal sebagai salah satu kota yang relatif aman di Indonesia. Hal itu tercemin dari semboyan masyarakat sekitar yaitu Torang Samua Basudara (Kita Semua Bersaudara).


Lagu Daerah :
-        Si Patokaan
-        O Ina Ni Keke

Kolintang adalah adalah musik tradisional dari Sulawesi Utara.
Alat ini terbuat dari sejumlah kayu yang berbeda-beda panjangnya sehingga menghasilkan nada yang berbeda-beda. Kata Kolintang berasal dari bunyi : Tong (nada rendah), Ting (nada tinggi) dan Tang (nada tengah). Dahulu Dalam bahasa daerah Minahasa untuk mengajak orang bermain kolintang: "Mari kita ber Tong Ting Tang" dengan ungkapan "Maimo Kumolintang" dan dari kebiasaan itulah muncul nama "KOLINTANG” untuk alat yang digunakan bermain.

EKONOMI SULAWESI UTARA
            Perekonomian suatu daerah bisa di lihat dari potensi- potensi yang ada pada daerah tersebut seperti dari mata pencahariannya. Potensi daerah Sulawesi Utara :
1)     Potensi Industri dan Pertambangan
Seperti emas, industri, perikanan laut, dan sebagainya.
2)     Potensi Pertanian dan Agro
Seperti cengkeh, coklat, kelapa, kopi, dan sebagainya.
3)     Potensi Pariwisata
Seperti danau limboto, pulau bunaken, pantai kema, taman wisata remboken, dan sebaginya.
            Adanya perguruan tinggi yang ada di Provinsi ini yaitu Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) di Manado dan perguruan tinggi swasta yang lainnya, dimana dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah sekitar. Selain  itu juga dapat mengurangi tingkat pengangguran dengan membuat usah-usaha kecil di sekitar Perguruan Tinggi Negeri tersebut.
2.       PROVINSI GORONTALO

Provinsi Gorontalo adalah salah satu dari 32 provinsi di wilayah Republik Indonesia yang memanjang dari Timur ke Barat di Bagian Utara Pulau Sulawesi.
BATAS WILAYAH
 Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Sulawesi, Sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Utara, Sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah, Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Tomini.

LUAS WILAYAH DAN LETAK GEOGRAFIS
 luas wilayah 12.215,44 km2 dan berada pada posisi geografis antara 00030’04” – 01002’30” Lintang Utara dan 112008’04”– 123032’09” Bujur Timur.
TOPOGRAFI DAN MUSIM
Provinsi terbungsu ini mempunyai ketinggian dari permukaan laut antara 0 – 2.400 meter dengan jumlah pulau-pulau kecil yang teridentifikasi sampai saat ini sebanyak 67 buah serta mempunyai 2 (dua) musim iklim pada umunya, yakni musim penghujan dan musim kemarau. Biasanya hari hujan terbanyak terjadi pada Bulan Maret, Mei dan Oktober dengan Curah Hujan rata-rata 207,7 mm dan suhu rata-rata 23 – 31° C. Sedangkan tekanan udaranya berkisar antara 11.21.5 MOB dengan kecepatan angin rata-rata 1,9 knot.
Provinsi Gorontalo juga mempunyai garis pantai sepanjang + 590 km dengan luas laut teritorial + 10.500 km2 dan luas perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) + 40.000 km2 yang ada di perairan sebelah Utara, sehingga total luas perairan laut + 50.500 km2 dengan tingkat kemiringan yang relatif rendah antara 0 – 40°.

SOSIAL BUDAYA GORONTALO
Penduduk
            Jumlah penduduk sekitar 887.000 iwa (sensus 2004) dengan angka kepadatan penduduk 72, 6 jiwa/ km2. Penduduk Gorontalo terdiri dari suku gorontalo, suku minahasa, suku polahi, suku Makassar, suku bugis, suku jawa, suku bali, dan sebagianya.

Budaya
Ciri khas budaya Gorontalo juga dapat dilihat pada makanan khas, rumah adat, kesenian, dan hasil kerajinan tangan Gorontalo. Diantaranya adalah kerajinan sulaman “Kerawang” dan anyaman “Upiya Karanji” atau Kopiah Keranjang yang terbuat dari bahan rotan. Kopiah Keranjang ini belakangan makin populer di Indonesia. Suku-suku yang bermukim di Kabupaten Boalemo, terdiri dari suku Gorontalo, Jawa, Sunda, Madura, Bali, NTB. Selain itu terdapat juga suku Bajo yang hidup berkelompok di suatu perkampungan di Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta dan Desa Torisiaje, Kecamatan Popayato. Mereka tinggal di laut dengan mendiami bangunan rumah di atas air.
Agama
Orang Gorontalo hampir dapat dikatakan semuanya beragama Islam (99 %). Islam masuk ke daerah ini sekitar abad ke-16. Ada kemungkinan Islam masuk ke Gorontalo sekitar tahun 1400 Masehi (abad XV), jauh sebelum wali songo di Pulau Jawa, yaitu ditandai dengan adanya makam seorang wali yang bernama ‘Ju Panggola’ di Kelurahan Dembe I, Kota Barat, tepatnya di wilayah perbatasan Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo.  Selain itu agama yang ada yaitu Kristen Protestan, Kristen Katolik, Budha, dan Hindu.


Kesenian
Gorontalo sebagai salah satu suku yang ada di Pulau Sulawesi memiliki aneka ragam kesenian daerah, baik tari, lagu, alat musik tradisional, adat-istiadat, upacara keagamaan, rumah adat, dan pakaian adat.
Tarian yang cukup terkenal di daerah ini antara lain,
-        Tari Bunga
-        Tari Polopalo
-        Tari Danadana
-        Zamrah
-        Tari Langga
Sedangkan lagu-lagu daerah Gorontalo yang cukup dikenal oleh masyarakat Gorontalo adalah
-       Hulandalo Lipuu (Gorontalo Tempat Kelahiranku),
-       Ambikoko,
-       Mayiledungga (Telah Tiba),
-       Mokarawo (Membuat Kerawang),
-       Tobulalo Lo Limuto (Di Danau Limboto),
-       Binde Biluhuta (Sup Jagung).
Alat musik tradisional yang dikenal di daerah Gorontalo adalah
-       Polopalo,
-        Bambu
-       Gambus

Rumah adat gorontalo
Gorontalo memiliki rumah adatnya sendiri, yang disebut Bandayo Pomboide dan Dulohupa. Pada masa pemerintahan para raja, rumah adat ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan, untuk memvonis para pengkhianat negara melalui sidang tiga alur pejabat pemerintahan, yaitu Buwatulo Bala (Alur Pertahanan / Keamanan), Buwatulo Syara (Alur Hukum Agama Islam), dan Buwatulo Adati (Alur Hukum Adat).

Bahasa Daerah Gorontalo
Orang Gorontalo menggunakan bahasa Gorontalo, yang terbagi atas tiga dialek:
-       dialek Gorontalo,
-       dialek Bolango
-       dialek Suwawa.
Saat ini yang paling dominan adalah dialek Gorontalo.
Dalam proses sosialisasi dan komunikasi keseharian masyarakat Gorontalo, selain menggunakan Bahasa Indonesia juga menggunakan pula Bahasa Gorontalo (Hulondalo). Bahasa daerah ini tidak ditinggalkan, kecuali sebagai salah satu kekayaan budaya, penggunaannya memberi label cirri khas Provinsi Gorontalo.
Pakaian Adat
Gorontalo memiliki pakaian khas daerah sendiri baik untuk upacara perkawinan, khitanan, baiat (pembeatan wanita), penyambutan tamu, maupun yang lainnya. Untuk upacara perkawinan, pakaian daerah khas Gorontalo disebut Bili’u atau  Paluawala. Pakaian adat ini  umumnya dikenal terdiri atas tiga warna, yaitu ungu, kuning keemasan, dan hijau.
EKONOMI GORONTALO
            Perekonomian suatu daerah bisa di lihat dari potensi- potensi yang ada pada daerah tersebut seperti dari mata pencahariannya. Potensi daerah Gorontalo :
1)     Potensi Industri dan Pertambangan
Seperti emas dan sebagainya.
2)     Potensi Pertanian dan Agro
Seperti cengkeh, coklat, kelapa, kopi, dan sebagainya.
3)     Potensi Pariwisata
Seperti danau limboto, wisata alam pantai, dan sebaginya.











3.     PROVINSI SULAWESI TENGAH

LETAK GEOGRAFIS
Propinsi Sulawesi Tengah terletak diantara 2022' Lintang Utara dan 3048' Lintang Selatan, serta 119022' dan 124022' Bujur timur. Batas-batas wilayahnya adalah: sebelah utara berbatas dengan Laut Sulawesi dan Provinsi Gorontalo, sebelah timur berbatas dengan Provinsi Maluku, sebelah selatan berbatas dengan Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara, serta sebelah barat berbatas dengan Selat Makasar.
 LUAS WILAYAH
 Luas wilayah Sulawesi Tengah 68.059,71 km2, secara administratip Sulawesi Tengah dibagi dalam Kabupaten, 1 Kotamadya dengan 81 Kecamatan serta 1430 desa/kelurahan definitif dan 10 Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT). Sulawesi Tengah merupakan propinsi terbesar di pulau Sulawesi, dengan luas wilayah daratan 68.033 km2  yang mencakup semenanjung bagian timur dan sebagian semenanjung bagian utara serta kepulauan Togian di Teluk Tomini dan Kepulauan Banggai di Teluk Tolo, dengan luas wilayah laut adalah 189.480 km2.

KEADAAN IKLIM

·         M U S I M
Keadaan musim di Propinsi Sulawesi Tengah hampir sama dengan yang ada di Sulawesi Tenggara yang terdiri dari dua musim yakni musim kemarau dan musim hujan.Musim hujan terjadi antara bulan November s.d bulan Maret, dan musim kemarau terjadi antara bulan Mei s.d bulan Oktober. Khusus pada bulan April, arah angin tidak menentu demikian pula curah hujan sehingga pada bulan ini dikenal sebagai bulan/musim pancaroba.
·         CURAH HUJAN
Curah hujan di Propinsi Sulawesi Tengah umumnya tidak merata. Hal ini menimbulkan adanya wilayah daerah basah dan wilayah daerah semi kering.
·         SUHU UDARA
Karena wilayah daratan Sulawesi Tengah juga mempunyai ketinggian umumnya dibawah 1.000 meter dari permukaan laut dan berada disekitar daerah khatulistiwa, maka propinsi ini beriklim tropis.

SOSIAL BUDAYA SULAWESI TENGAH
Penduduk
            Jumlah penduduk sekitar 2.242.914 (sensus 2004) dengan angka kepadatan penduduk 33 jiwa/ km2. Penduduk Sulawesi  Tengah terdiri dari penduduk asli dan juga pendatang. Suku-suku yang terdapat di Sulawesi tengah terdiri dari suku balantak, suku banggai, suku bore, suku bungku, suku buol, suku kaili, suku kulawi, suku pamona-mori, suku saluan, suku toil-toli, dan suku tomini.

Agama
Agama yang di anut masyarakat Sulawesi Tengah secara Mayoritas adalah Islam. Agama- agama lain yang di anut masyarakat Sulawesi Tengah lainnya adalah Kristen Protestan, Katolik, Budha, dan Hindu.
Bahasa
            Bahasa sehari- hari masyarakat Sulawesi Tengah adlah Bahasa Indonesia selaku bahasa persatuan dan bahasa daerah.

Adat Istiadat dan Budaya Daerah
            Kekayaan adat istiadat dan budaya di Provinsi  Sulawesi Tengah adalah seperti berikut :
1.      Rumah Adat
Rumah adar Sulawesi Tengah adalah rumah adat Tambi, jenis rumah berbentuk panggung. Atap rumah adat yang terbuat dari daun rumbia atau daun bamboo yang di belah dua ini berfungsi juga sebagai dinding. Alas rumah terdiri dari balok-balok yang di susun sedangkan dasar atau pondasinya terdiri dari batu alam. Tangga untuk  naik dan turun dari dan kedalam rumah terdiri dari batang-batang kayu bulat. Anak tangga berjumlah ganjil yang menandakan rumah Kepala Adat sedangkan anak tangga yang berjumlah genap merupakan rumah milik penduduk biasa.
2.      Seni Hias
Salah satu seni hias masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya masyarakat Donggala berupa bentuk bunga dan burung pada kain tenun.
3.      Pakaian Adat
Pakaian adat untuk pria terdiri dari buya, yakni baju yang menyerupai  jubah, hiasan kepala yang dinamai siga, serta sebilah pastimpo atau pedang khas Sulawesi Tengah yang terselip di pending yang terdapat di pingang. Pakaian adat untuk perempuan terdiri dari dari baju yang dinamakan patimah lola, hiasan untuk kepala dan dahai yang dinamakan dadasa, dan juga pending. Perhiasan yang dikenakan adalah kalung bersusun atau gano kambora.
4.      Tairan-tairan Daerah
Tarian-tarian daerah rakyat Sulawesi Tengah di antaranya adalah: tari kalanda, tari mamosa, tari lumense, tari peula cinde, dan sebagianya.
5.      Lagu Daerah
Lagu-lagu daerahnya di antaranya adalah lagu tondok kadadingku, tope gugu, dan sebagainya.
6.      Senjata Tradisional
Senjata tradisional rakyat berupa Pasatimpo, yakni sejenis pedang denga bentuk hullu bengkok ke bawah dan sarungnya deberi tali.
Senjata-senjata tradisional masyarakat Sulawesi Tengah lainnya berupa:
1)     Tombak kanjae atau sarumpa, yakni tombak berbentuk trisula.
2)     Parang, biasa digunakan untuk berladang, bertani, maupun untuk berperang.
3)     Tombah, biasa digunakan untuk berburu babi, mencari ikan, dan berperang.
4)     Pisau
5)     Sumpit
7.      Makanan Khas Tradisonal
Kaledo.

EKONOMI SULAWESI TENGAH
            Perekonomian suatu daerah bisa di lihat dari potensi- potensi yang ada pada daerah tersebut seperti dari mata pencahariannya. Potensi daerah Sulawesi Utara :
1)     Potensi Industri dan Pertambangan
Seperti emas, biji besi, dan juga industri pengolahan hasil perikanan dan peternakan.
2)     Potensi Pertanian dan Agro
Seperti cengkeh, karet, kelapa, lada, tebu, hasil hutan,hasil perikanan, dan sebagainya.
3)     Potensi Pariwisata
Seperti goa pamona, bada napu, sumber air panas air bota, taman buru landuga, tentana yang merupakan pusat keagamaan dan pemerintahan bekas  kerajaan tua lembah poso, dan sebagainya.

            Adanya perguruan tinggi yang ada di Provinsi ini yaitu Universitas Tandulako (Untad) dan perguruan tinggi swasta yang lainnya, dimana dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah sekitar. Selain  itu juga dapat mengurangi tingkat pengangguran dengan membuat usah-usaha kecil di sekitar Perguruan Tinggi Negeri tersebut.




4.     PROVINSI  SULAWESI TENGGARA

LETAK GEOGRAFIS DAN BATAS WILAYAH
Secara geogafis Sulawesi Tenggara terletak di bagian Selatan khatulistiwa diantara 3° - 6° Lintang Selatan dan 120° 45’ - 124° 60’ Bujur Timur.
LUAS WILAYAH
Propinsi Sulawesi Tenggara memiliki wilayah daratan seluas ± 38.140 Km2 atau 3.814.000. Ha dan wilayah perairan (laut ) diperkirakan seluas ± 110.000. Km2 atau 11.000.000 Ha.
Propinsi Sulawesi Tenggara terdiri atas 4 (empat) wilayah Kabupaten, yaitu Kabupaten Kendari, Kolaka, Muna dan Buton, dan 1 (satu) wilayah kotamadya yaitu Kotamadya Kendari, serta 1 (satu) wilayah kota administratif yaitu Kotif Bau-Bau

KONDISI TANAH

·         TOPOGRAFI
Kondisi tanah daerah Sulawesi Tenggara umumnya bergunung, bergelombang berbukit-bukit. Permukaan tanah pegunungan relatif rendah (sebagian besar berada pada ketinggian 100 - 500 meter diatas permukaan laut) digunakan untuk usaha mencapai ± 1.167.039 Ha.
·         GEOLOGIS
Kondisi batuan wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara ditinjau dari sudut geologis terdiri atas batuan sedimen, batuan metamorfosis, dan batuan beku. Dari ketiga jenis batuan tersebut yang terluas adalah batuan sedimen, seluas 2.579.790 Ha.
Dari jenis tanah, Propinsi Sulawesi Tenggara memiliki 6(enam) jenis tanah yaitu : tanah podzolik seluas 2.299.729 Ha, tanah mediteran seluas 899.802 Ha, tanah latosol seluas 349.784 Ha, tanah organosol seluas 116.099 Ha, tanah alluvial seluas 129.569 Ha dn tanah grumosol seluas 20.017 Ha.

PERAIRAN (SUNGAI DAN LAUT)

·         HIDROLOGI
Propinsi Sulawesi Tenggara memiliki beberapa sungai besar, tersebar di empat Kabupaten umumnya memiliki potensi yang dapat dijadikan sebagai sumber tenaga untuk kebutuhan industri dan rumah tangga dan juga irigasi. Sungai-sungai besar tersebut seperti : sungai Konawe, disungai ini berdiri Bendungan Wawotobi yang mampu mengairi sawah seluas 18.000 Ha. Selain itu ada sungai Lasolo, sungai Roraya, sungai Sampolawa, sungai Wandasa, sungai Kabangka Balano, sungai Laeya dll.
·         OCEANOGRAFI
Propinsi Sulawesi Tenggara memiliki wilayah perairan yang potensial untuk pengembangan usaha perikanan dan pengembangan wisata bahari, karena disamping memiliki bermacam-macam hasil ikan, juga memiliki panorama laut yang sangat indah.
Beberapa jenis ikan hasil perairan laut Sulawesi Tenggara yang banyak ditangkap nelayan adalah : Cakalang, Teri, Layang, Kembung, Udang dll, disamping itu terdapat pula hasil lain seperti : Teripang, Agar-agar, Japing-japing, Lola, Mutiara dll.
Hasil Penelitian yang telah dilakukan oleh ahli kelautan Indonesia dan luar negeri menunjukkan bahwa Buton Timur (Kepulauan Tukang Besi) memiliki potensi perairan untuk wisata bahari yang sangat indah bila dibandingkan dengan daerah-daerah wisata bahari lainnya di Indonesia.


KEADAAN IKLIM

·         M U S I M
Keadaan musim di Propinsi Sulawesi Tenggara terdiri dari dua musim yakni musim kemarau dan musim hujan.Musim hujan terjadi antara bulan November s.d bulan Maret, dan musim kemarau terjadi antara bulan Mei s.d bulan Oktober. Khusus pada bulan April, arah angin tidak menentu demikian pula curah hujan sehingga pada bulan ini dikenal sebagai bulan/musim pancaroba.
·         CURAH HUJAN
Curah hujan di Propinsi Sulawesi Tenggara umumnya tidak merata. Hal ini menimbulkan adanya wilayah daerah basah dan wilayah daerah semi kering. Wilayah daerah basah mempunyai curah hujan lebih dari 2.000 mm/tahun, daerah ini meliputi wilayah sebelah utara garis Kendari - Kolaka, dan bagian utara pulau Buton dan pulau Wawonii. Sedangkan wilayah daerah semi kering mempunyai curah hujan kurang dari 2.000 mm/tahun, meliputi wilayah sebelah selatan garis Kendari - Kolaka dan wilayah kepulauan disebelah Selatan dan Tenggara jazirah Sulawesi Tenggara.
·         SUHU UDARA
Karena wilayah daratan Sulawesi Tenggara mempunyai ketinggian umumnya dibawah 1.000 meter dari permukaan laut dan berada disekitar daerah khatulistiwa, maka propinsi ini beriklim tropis.

SOSIAL BUDAYA
Penduduk
jumlah penduduk sekitar 1.881.552 (sensus tahun 2003) dalam angka kepadatan penduduk 50,6 jiwa/km2 . Penduduk Sulawesi tenggara terdiri dari penduduk asli dan penduduk pendatang.

Suku-suku yang terdapat di Sulawesi Tenggara terdiri dari :

-          Suku buton
-          Suku muna
-          Suku bugis
-          Suku kalisoso
-          Suku toraja
-          Suku moronene
-          Suku tolaki
-          Suku wolio
-          Suku wonolali


Agama
Agama yang dianut masyarakat Sulawesi tenggara secara mayoritas adalah islam, Kristen, baik protestan maupun katolik
Bahasa
Bahasa sehari-hari masyarakat Sulawesi tenggara adalah bahasa Indonesia selaku bahasa persatuan nasional dan bahasa daerah
Adat istiadat dan budaya daerah
Kekayaan adat istiadat dan budaya di provinsi Sulawesi tenggara adalah seperti berikut
1.      Rumah adat
Salah satu contoh rumah adat Sulawesi tenggara adalah istana sultan buton yang dinamakan Malige. Rumah adat berbentuk panggung ini dibuat tanpa menggunakan paku. Bangunan ini terdiri dari tiga lantai, dengan perincian sebagai berikut :
-        Lantai pertama untuk tempat tinggal raja dan permaisuri
-        Lantai kedua untuk tempat tinggal
-        Lantai ketiga untuk tempat kaum wanita sholat
Pada bagian sebelah kiri dan kanan lantai kedua terdapat bate, yaitu ruangan tempat menenun kain
2.      Seni hias
Seni hias masyarakat Sulawesi tenggara, khususnya pada masyarakat kendari berupa ragam hias pada aneka kerajinan perak
3.      Pakaian adat
Pakaian adat untuk pria terdiri dari baju jas model tertutup, sarung sebatas lutut, celana panjangdan tutup kepala atau daster
Pakaian adat untuk wanita terdiri dari baju kebaya, kain selempang dan sarung serta hiasan lainnya di kepala. Perhiasan yang dikenakan adalah anting-anting, kalung dan gelang tangan.
4.      Tari-tarian daerah
Tari-tarian daerah masyarakat Sulawesi tenggara diantaranya adalah :

-        Tari modinggu
-        Tari molulo
-        Tari kalegoa
-        Tari lantitiasi
-        Tari balumpa
-        Tari bosu

5.      Lagu daerah
Lagu- lagu daerah masyarakat Sulawesi tenggara diantaranya adalah lagu peia tawa-tawa dan lain-lainnya
6.      Senjata tradisional
Senjata tradisional rakyat Sulawesi tenggara adalah keris yang berlekuk-lekuk. Senjata tradisional khas Sulawesi tenggara lainnya dalah pedang. Keris maupun pedang biasa digunakan untuk berperang jarak dekat. Senjata –senjata masyarakat Sulawesi lainnya adalah :
-        Tombak, yang bisa digunakan untuk berperang jarak jauh
-        Lembing, biasa digunakan untuk berperang jarak jauh
-        Sumpitan, juga biasa digunakan untuk berperang jarak jauh
7.      Makanan khas daerah
Makanan khas daerah sualwesi tenggara adalah sasate nangka.

EKONOMI SULAWESI TENGGARA
            Perekonomian suatu daerah bisa di lihat dari potensi- potensi yang ada pada daerah tersebut seperti dari mata pencahariannya. Potensi daerah Sulawesi Tenggara :
1)     Potensi Industri dan Pertambangan
Seperti aspal, nikel, dan sebagainya.
2)     Potensi Pertanian dan Agro
Seperti  coklat, jsmbu mete, kelapa, tebu, tembakau, dan sebagainya.
3)     Potensi Pariwisata
Seperti cagar alam kayu kuku, pantai nirwana, air terjun di kendari, pulau muna, taman nasional buton, tanjung amolengo, dan sebagainya.
            Adanya perguruan tinggi yang ada di Provinsi ini yaitu Universitas Haluoleo (Unho) di Kendari dan perguruan tinggi swasta yang lainnya, dimana dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah sekitar. Selain  itu juga dapat mengurangi tingkat pengangguran dengan membuat usah-usaha kecil di sekitar Perguruan Tinggi Negeri tersebut.








5.     GEOGRAFI SULAWESI SELATAN

 LUAS WILAYAH
Luas wilayah Provinsi Sulsel sebelum pemekaran Provinsi Sulbar mencapai 6.336.171 hektar atau sekitar 42 % dari luas wialayh Sulawesi. Namun setelah pemekaran, luas wilayah Provinsi Sulsel tinggal 4.666.453 hektar atau sekitar 31 % dari luas wilayah Sulawesi, dan sekitar 3 % dari luas wilayah Indonesia.
Perubahan luas wilayah tersebut ditandai dengan pemisahan lima kabupaten yang masuk dalam wilayah Provinsi Sulbar yaitu Kabupaten Majene, Mamasa, Mamuju, Mamuju Utara dan Polewali Mandar dengan dasar Undang-Undang Nomor 56 Tahun 2004 tanggal 5 Oktober 2004 maka terjadi perubahan luas Sulsel yang berkurang ssekitar 1.678.718 hektar.
LETAK GEOGRAFIS
Dalam peta rupa bumi digambarkan Provinsi Sulsel terletak  Sulsel  pada 0o12' LS dan 8o LU, dan antara     116o48'BB - 122o36' BT.



BATAS WILAYAH
Wilayah Propinsi Sulsel berbatasan dengan; Sulawesi Barat di sebelah  utara,  Selat Makassar di sebelah barat, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara di sebelah timur, dan Laut Flores di sebelah selatan.
TOPOGRAFI
Sulawesi Selatan memiliki 4 danau yakni Danau Tempe di Kab. Wajo, Danau Sidenreng di Kabupaten Sidrap,  Danau Matana dan Towoti di Kabupaten Luwu. Adapun jumlah gunung tercatat 7 gunung yang mana gunung tertinggi adalah Gunung Rantemario dengan ketinggian 3.470 m di atas permukaan air laut. Gunung ini terletak di daerah perbatasan antara Kabupaten Luwu dan Enrekang.
Nama Gunung Di Sulawesi Selatan:
No.
Nama Gunung
Tinggi Gunung (meter)
Lokasi
1
Gunung Lompobattang
2.871
Meliputi Kab.Gowa,Bantaeng, Sinjai, dan Bulukumba
2
Gunung Bukit Rantai Kombala
3.103
Kabupaten Luwu
3
Gunung Rante Mario
3.470
Meliputi Kabupaten Luwu, Enrekang
4
Gunung Kambuno
2.900
Kabupaten Luwu
5
Gunung Balease
3.016
Kabupaten Luwu
6
Gunung Latimojong
3.305
Meliputi Kabupaten Enrekang, Sidrap, Luwu
7
Gunung Bawakaraeng
2.839
Meliputi Kabupaten Gowa dan Sinjai
Sumber: BPS Sulsel Dalam Angka Tahun 2006
Jumlah sungai yang mengaliri wilayah Sulsel tercatat sekitar 65 aliran sungai, dengan jumlah aliran terbesar di Kabupaten Luwu, yakni 25 aliran sungai. Sungai terpanjang adalah Sungai Saddang yang mengalir meliputi Kabupaten tator, Enrekang, Pinrang dan Polewali (Sulawesi Barat) dengan panjang sungai 150 km.

KONDISI WILAYAH
Dari segi dimensi sumber daya alam, Provinsi Sulsel terdapat empat kategori, yaitu; Dataran rendah yang meliputi hampir semua kabupaten kota, Dataran tinggi yang meliputi Kabupaten Luwu, Tana Toraja, Luwu Utara, Enrekang, Sinjai, Gowa, Bone, dan sebagian di wilayah Sidrap, Wajo, Pinrang, Maros, Pangkep dan Parepare, Perairan pantai yang meliputi kabupaten/kota yang terbentang di pesisir pantai timur dan pantai barat, dan Laut dalam yang meliputi Selat Makassar, Teluk Bone, dan Laut Selayar. Dari luas wilayah, pemanfaatan lahan di Provinsi Sulsel mencakup kawasan hutan (57,59 %),  Sawah (9,01 %), Rawa (01,65 %), Danau, Tambak (2,84%), Perikanan (1,07%), Perkebunan (9,85%), Lain-lain (8,74%).
IKLIM DAN CUACA
Berdasarkan pencatatan Stasiun Klimatologi Kelas I Panakukang Makassar bahwa rata-rata temperatur sepanjang tahun 2005 berkisar 26,5 oC- 27,1 oC, suhu minimum mencapai  22,5 oC - 24,7 oC, dan suhu maksmimun berkisar 30,2 oC - 34,5 oC.  Kelembaban nisbi sekitar 66% - 87 % dengan rata-rata penyinaran matahari antara 45 % - 98 %, dan surah hujan rata-rata 1.000-1.500 mm per tahun.

SOSIAL BUDAYA SULAWESI SELATAN
Penduduk
 Jumlah penduduk sekitar 7.520.204 (sensus tahun 2006) dengan angka kepadatan penduduk 120 jiwa/km2. Penduduk Sulawesi selatan terdiri darti penduduk asli dan juga pendatang. Suku-suku yang terdapat di Sulawesi selatan terdiri dari suku bugis, suku Makassar, suku mandar, suku toraja dan lain-lain
Agama
Agama yang dianut masyarakat Sulawesi selatan secara mayoritas adalah islam, kecuali di kabupaten tana toraja dan sebagian wilayah lainnya beragama Kristen protestan serta katolik.
Bahasa
Bahasa sehari-hari masyarakat Sulawesi selatan adalah bahasa Indonesia selaku bahasa persatuan nasional dan bahasa daerah. Bahasa – bahasa daerah yang ada disulawesi selatan diantaranya :
-         Bahasa makassar
-         Bahasa bugis
-         Bahasa luwu
-         Bahasa toraja
-         Bahasa mandar
-         Bahasa konjo
Adat istiadat dan budaya daerah
Kekayaan adat istiadat dan budaya di provinsi Sulawesi selatan adalah :
-        Rumah adat
Salah satu adat Sulawesi selatan adalah rumah tongkonan yang merukana rumah adat masyarakat toraja. Rumah adat ini berbentuk panggung yang terdiri dari tiga ruangan, yaitu ruangan untuk tamu, ruang makan dan ruang belakang. Didepan rumah dihiasi dengan susunan tanduk-tanduk kerbauyang digunakan untuk kandang kerbau belang atau tedong bonga. Kerbau jenis ini merupakan perlambang kekayaan bagi masyarakat toraja.
-        Seni hias
Seni hias masyarakat Sulawesi selatan adalah seni hias geometris toraja yang bentuk hiasannya berjumlah 90 macam. Seni hias ini terdapat di dinding rumah adata sebagai ungakapan kata hari pemilknya.
-        Pakaian adat
Pakaian adat untuk pria terdiri dari  baju jas, sarung yang disebut tope, bella atau tutup kepala, gelang naga atau pattonaga dan keris tata roppeng, yakni keris yang keseluruhannya terbungkus emas. Sedangkan pakaian adat untuk wanita terdiri dari baju pendek, tope atau sarung berikut rantainya, ikat pinggangdengan sebilah keris terselip didepan perut. Perhiasan yang dikenakan adalah anting – anting
-        Alat musik tradisional
Alat music tradisional Sulawesi selatan adalah :
a.       Alosu, yakni alat music berupa kotak anyaman daun kelapa didalam nya terdapat biji-bijian.
b.      Keso-keso, yakni alat music tradisional sejenis rebab yang biasa digunaka masyarkat toraja
c.       Anak becing, yakni alat music tradisional berupa dua batang logam seperti pendayung
d.      Basi-basi, yakni alat music tradisional sejenis terompet dari bamboo yang dipasang rangkap
e.       Talindo, alat musik petik tradisional dari toraja
f.        Puwi-puwi, yakni alat musik tradisional semacam terompet
-        Tari-tarian daerah
-        Tari-tarian daerah sulawes selatan diantaranya adalah:

a.       Tari bissu
b.      Tari bosara
c.       Tari ganrom buloh
d.      Tari kipas

e.       Tari pajaga
f.        Tari pujoge
g.       Tari rapassak
h.      Tari salonreng

-        Lagu daerah

Lagu-lagu masyarakat Sulawesi selatan diantaranya adalah lagu anging mamiri, ati raja, ma rencong, pakarena dan lainnya.
-        Senjata tradisional
Senjata tradisional rakyat Sulawesi selatan adalah badik. Snjata tradisionala masyarakat Sulawesi selatan lainnya adalah:
1.      Peda, semacam parang
2.      Sebel, jenis peda yang lebih panjang ukurannya dan biasa digunakan untuk berperang
3.      Tombak
4.      Perisai
-        Makanan khas daerah
Coto Makassar, nasi likku, palu basa, pallumara,palukonro dan lainnya.


EKONOMI SULAWESI SELATAN
            Perekonomian suatu daerah bisa di lihat dari potensi- potensi yang ada pada daerah tersebut seperti dari mata pencahariannya. Potensi daerah Sulawesi Selatan:
1)     Potensi Industri dan Pertambangan
Seperti emas, batu bara, nikel, semen, dan juga industri pengolahan hasil perikanan.
2)     Potensi Pertanian dan Agro
Seperti cengkeh, coklat, kopi, jambu mete, kapas, karet, kemiri, lada, dan sebagainya.
3)     Potensi Pariwisata
Seperti benteng Makassar, makam raja- raja tallo, pulau kayangan, taman purbakala, leang-leang, tana toraja, dan sebagainya.
            Adanya perguruan tinggi yang ada di Provinsi ini yaitu Universitas Hassanudin (Unhas)  di Makassar, Universitas Negeri Makssar, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di Alauddin Makassar, dan perguruan tinggi swasta yang lainnya, dimana dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah sekitar. Selain  itu juga dapat mengurangi tingkat pengangguran dengan membuat usah-usaha kecil di sekitar Perguruan Tinggi Negeri tersebut.





















6.     GEOGRAFI SULAWESI BARAT                             


LUAS WILAYAH
Luas wilayah provinsi Sulawesi Barat tercatat 16.937,16 kilometer persegi yang meliputi 5 kabupaten. Kabupaten Mamuju merupakan kabupaten terluas dengan luas 8.014,06 kilometer persegi atau luas kabupaten tersebut merupakan 47,32 persen dari seluruh wilayah Sulawesi Barat.
LETAK GEOGRAFIS
Sulawesi Barat berada pada posisi "Segi Tiga Emas" antara provinsi Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah. Posisi ini dianggap sangat menguntungkan, karena memberi nilai tambah untuk pengembangan sosial ekonomi kedepan.
Secara Astronomis, wilayah Sulawesi Barat berada pada koordinat antara 11808'59" - 119055'06 bujur timur serta 0045;59" Lintang Selatan hingga 03034'01" lintang selatan. Letak provinsi Sulawesi Barat sangat straegis karena berada antara 0012' - 3038' lintang selatan dan 1180.

BATAS WILAYAH
Secara Administratif batas wilayah provinsi Sulawesi Barat adalah : Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Donggala provinsi Sulawesi Tengah; Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Tanah Toraja dan Kabupaten Pinrang provinsi Sulawesi Selatan; Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pinrang provinsi Sulawesi Selatan dan teluk Mandar; Sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar.
TOPOGRAFI
Topografi provinsi Sulawesi Barat adalah bervariasi dari datar, berbukit sampai bergunung. Wilayah dengan kondisi topografi yang datar dapat dijumpai di sebagian besar kabupaten Polewali Mandar dan Mamuju Utara sedangkan Mamuju, Majene dan Mamasa adalah berbukit sampai bergunung. Jumlah sungai yang mengaliri wilayah Sulawesi barat tercatat sekitar delapan aliran sungai, dengan jumlah aliran yang terbesar terdapat di kabupaten Polewali Mandar, yakni lima aliran sungai. Sungai yang terpanjang tercatat ada dua yakni Sungai Saddang yang mengalir pada wilayah kabupaten Tanah Toraja, Enrekang, Pinrang (masing-masing berada di wilayah Sulawesi Selatan) dan Kabupaten Polewali Mandar. Sungai kedua adalah Sungai Karama yang berada di kabupaten Mamuju. Panjang kedua sungai tersebut masing - masing 150 km.
Di Sulawesi Barat terdapat dua buah gunung dengan ketinggian diatas 2.500 m. Gunung tertinggi adalah Ganda Dewata dengan ketinggian 3.074 m dpl, gunung ini berdiri tegak di wilayah kabupaten Mamuju. Uraian diatas dapat dilihat dalam tabel.
Nama - Nama Gunung Menurut Tinggi dan Lokasi  di Sulawesi Barat Tahun 2005:
No
Nama Gunung
Tinggi Gunung (M)
Lokasi
1
Paroreang
2.619
Kabupaten Polewali Mandar
2
Ganda Dewata
3.074
Kabupaten Mamuju
Sumber : Kantor Badan Pertanahan Nasional Sulawesi Selatan
Nama - Nama Sungai Utama dan Aliran Sungai di Sulawesi Barat Tahun 2005
No
Nama Sungai
Panjang Sungai (Km)
Daerah Aliran Sungai
Lokasi
Ketinggian (m)
Kerendahan (m)
1
Saddang
150
Tator, Enrekang, Polewali Mandar.
5.000,0
250,0
2
Matakali
28
Polewali Mandar
149,0
108,0
3
Mambi
95
Polewali Mandar
270,0
121,3
4
Mandar
90
Polewali Mandar
821,0
42,0
5
Manyamba
28
Majene
210,0
3,0
6
Malunda
38
Majene
175,0
38,2
7
Kaluku
32
Mamuju, Polewali Mandar
330,0
71,6
8
Karama
150
Mamuju
5.435,8
138,5
Sumber : Sulbar dalam Angka 2005/2006
IKLIM DAN CUACA
Provinsi Sulawesi Barat mempunyai kelembaban udara yang relatif tinggi, dimana pada tahun 2005 rata-rata berkisar antara 74 % sampai 85 %.

SOSIAL BUDAYA SULAWESI BARAT
Penduduk
 Jumlah penduduk sekitar 938.254 dengan angka kepadatan penduduk 55,8 jiwa/km2
Penduduk Sulawesi barat terdiri dari penduduk asli dan penduduk pendatang. Suku-suku yang terdapat di Sulawesi barat terdiri dari suku mandar(49,15 %) suku toraja (13,95%), suku bugis(10,79%), suku jawa (5,38%) suku Makassar (1,59%) dan suku-suku lainnya (19,15%)
Agama
Agama yang di anut masyarakat Sulawesi barat secara mayoritas adalah islam. Komposisi agama yang dianut masyarakat Sulawesi barat adalah :
-        Agama islam (83,1%)
-        Agama Kristen, baik protestan maupun katolik (14,36%)
-        Agama hindu (1,88%)
-        Agama budha(0,04%)
-        Agama lainnya (0,62%)
-         
Bahasa
Bahasa sehari-hari masyarakat Sulawesi barat adalah bahasa indonesia selaku bahasa persatuan nasional dan bahasa daerah. Bahasa-bahasa daerah Sulawesi barat antara lain :
-        Bahasa mandar
-        Bahasa bugis
-        Bahasa toraja
-        Bahasa Makassar.

EKONOMI SULAWESI BARAT
            Perekonomian suatu daerah bisa di lihat dari potensi- potensi yang ada pada daerah tersebut seperti dari mata pencahariannya. Potensi daerah Sulawesi Barat :
1)     Potensi Industri dan Pertambangan
Seperti emas, batu bara, minyak bumi, dan sebagainya.
2)     Potensi Pertanian dan Agro
Seperti cengkeh, kakao, kelapa, kopi, dan sebagainya.
3)     Potensi Pariwisata
Seperti wisata pantai dan laut.



 SUMBER :
Komandoko, Gamal. 2008. Buku Serba Tahu. Pustaka Widyatama. Jakarta. 
http://www.gorontalo-info.20megsfree.com/asb.html .

1 komentar:

  1. sangat informatif, detail, dan runtut
    *two thumbs up*

    BalasHapus